Senin, 24 April 2017

Cara Mengatasi Nyeri Saat Menstruasi



Anda sering merasakan nyeri saat haid ? anda tidak perlu khawatir karena itu merupakan gejala normal dari serangkaian Premanstrual Syndrome atau PMS.  Penyebab PMS diduga karena adanya faktor hormonal yaitu terjadi karena tidak sempurnanya proses ovulasi yang diakibatkan tidak seimbangnya hormon. Bisa saja penyebab ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron atau dapat juga disebabkan karena estrogen dominan yang berlebih yang berasal dari luar tubuh.
Adapula yang mengatakan sesuai penelitian yang ditemukan , PMS disebabkan estrogen dan hormon menstruasi yang berinteraksi dengan serotin. PMS juga dihubungkan dengan adanya asupan vitamin B , kalsium dan juga magnesium. Gejala PMS akan muncul satu atau dua minggu sebelum anda mengalami menstruasi.
Gejala-gejala yang mungkin terjadi pada anda akan mengalami menstruasi, yaitu:
1. Payudara nyeri dan mengalami bengkak
2. Mengalami pusing
3. Nyeri pada perut bagian bawah
4. Kembung
5. Depresi
6. Kelelahan
Adapun cara untuk mengatasi nyeri saat haid  yang bisa anda lakukan adalah sebagai berikut :
1.  Konsumsi makanan sehat
Perbanyak makanan yang mengandung kalsium, magnesium, vitamin D, vitamin E dan omega 3. Mengkonsumsi buah dan sayur aneka warna, ikan,labu dan juga makanan yang banyak mengandung protein nabati.
2.  Kompres perut
Anda dapat mengompres perut dan punggung bawah dengan menggunakan bantalan pemanas. Adapula yang melakukan rileksasi dengan cara berendam di dalam air hangat untuk mengatasi nyeri menstruasi.
3. Berbaring
Anda bisa mencoaba berbaring di tempat tidur ataupun sifa untuk mengurangi rasa nyeri. Biasa anda akan merasakan nyeri saat menstruasi pada bagian punggung . Dengan cara berbaring anda akan meredakan rasa nyeri. Gunakan bantal untuk menyangga lutut dan ambil nafas panjang perlahan buang. Lakuakan hingga anda merasa nyaman.
4. Pijatan lembut
Pemijatan ringan dapat dilakukan pada bagian perut bawah secara merata dan tulang pinggang . Lakukakan juga pemijatan secara hati-hati pada otot sekitar pusar dengan cara mencubit . Anda juga bisa menyempurnakan pijatan ringan di sebelah otot bagian dalam tulang kering dari atas sampai bawah.
5. Minum Jamu
Obat tradisional sering digunakan dalam mengatasi nyeri haid. Anda bisa menggunakan ramuan dengan mencampurkan 15-30 gram daun dewa dengan 20 gram kunyit kemudian direbus dengan 600 cc air. Sisakan setengahnya kemudian disaring dan airnya dapat diminum 2 kali sehari.
6. Olahraga ringan
Olahraga yang bisa membantu anda meringankan nyeri haid adalah dengan berjalan kaki. Dengan  anda melakukan jalan kaki dapat membuat gerakan otot sehingga dapat meningkatkan denyut jantung, bisa anda lakukan selama 30 menit secara teratur . Jogging juga bisa menjadi alternatif untuk anda meringankan nyeri haid. Dengan jogging anda dapat memperlancar aliran darah sekaligus untuk  meningkatkan metabolisme tubuh. Alternatif lainnya yaitu yoga. Dengan  yoga anda dapat mengatur pernapasan saat menstruasi selain itu juga olahraga ringan seperti yoga dapat membuat anda rileks serta meningkatkan sirkulasi darah
7. Konsultasikan kepada dokter
Pilihan ini bisa menjadi alternatif terakhir anda. Disarankan untuk anda berkonsultasi dengan dokter. Meskipun pada umumnya wanita yang mengalami menstruasi akan merasakan nyeri tetapi jika nyeri tidak hilang dan sangat mengganggu bisa jadi awal adanya gejala masalah pada alat reproduksi. Sehingga pemeriksaan dokter akan membantu anda untuk mengetahui lebih awal dan memberikan penanganan yang tepat.



Perawatan Pada Ibu Nifas


Masa nifas merupakan masa yang diawali sejak beberapa jam setelah plasenta lahir dan berakhir setelah 6 minggu setelah melahirkan. Akan tetapi, seluruh organ kandungan baru pulih kembali seperti sebelum hamil, dalam waktu 3 bulan setelah bersalin. Masa nifas tidak kalah penting dengan masa-masa ketika hamil, karena pada saat ini organ-organ reproduksi sedang mengalami proses pemulihan setelah terjadinya proses kehamilan dan persalinan.

Masa nifas dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu pasca nifas, masa nifas dini dan masa nifas lanjut, yang masing-masing memiliki ciri khas tertentu. Pasca nifas adalah masa setelah persalinansampai 24 jam sesudahnya (0-24 jam sesudah melahirkan). Masa nifas dini adalah masa permulaan nifas, yaitu 1 hari sesudah melahirkan sampai 7 hari lamanya (1 minggu pertama). Masa nifas lanjut adalah 1 minggu sesudah melahirkan sampai dengan 6 minggu setelah melahirkan.

Pada masa nifas ini, terjadi banyak perubahan pada tubuh sang ibu, misalnya rahim yang tadinya membesar karena pertumbuhan janin, mulai kembali ke ukuran sebelum hamil. Selain itu, jalan lahir yang tadinya melebar karena dilewati oleh bayi pada proses persalinan, kini mulai mengecil dan kembali seperti sebelum hamil. Dinding perut yang tadinya longgar kini mulai mengencang kembali, dan payudara semakin membesar karena adanya produksi ASI. Masa nifas ini bersamaan dengan mulainya masa menyusui, sehingga masa ini sangat penting bagi keberhasilan ibu memberikan ASI eksklusif. Kolostrum (ASI yang pertama kali keluar) yang muncul pada awal masa nifas, yang kaya akan nutrisi penting bagi sistem kekebalan dan kecerdasan bayi, jangan sampai terlewatkan untuk diberikan pada bayi.

Perawatan masa nifas adalah perawatan terhadap ibu yang baru melahirkan sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil. Fungsi perawatan masa nifas yaknimemberikan fasilitas agar proses penyembuhan fisik dan psikis berlangsung dengan normal,mengamati proses kembalinya rahim ke ukuran normal, membantu ibu untuk dapat memberikan ASI dan memberi petunjuk kepada ibu dalam merawat bayinya. Perawatan masa nifas sebenarnya dimulai sejak plasenta lahir, dengan menghindarkan adanya kemungkinan-kemungkinan perdarahan setelah melahirkan dan infeksi. Bila ada luka robek pada jalan lahir atau luka bekas guntingan episiotomi, dilakukan penjahitan dan perawatan luka dengan sebaik-baiknya. Penolong persalinan harus tetap waspada sekurang-kurangnya 1 jam sesudah melahirkan, khususnya untuk mengatasi kemungkinan terjadinya perdarahan.

Sesudah bersalin, suhu badan ibu dapat naik 0,5 derajat C, tapi tidak melebihi 38 derajat C. Sesudah 12 jam pertama, suhu badan akan kembali normal. Bila suhu melebihi dari 38 derajat C, kemungkinan telah terjadi infeksi. Rasa mulas di perut setelah melahirkan timbul akibat kontraksi rahim dan biasanya lebih terasa saat menyusui. Keluhan ini dapat dialami selama 2-3 hari sesudah bersalin. Rasa mulas ini juga dapat timbul jika masih terdapat sisa selaput ketuban, plasenta atau bekuan darah di dalam rongga rahim. Bila mulas tersebut sangat mengganggu, dapat diberikan obat antinyeri dan penenang, supaya ibu dapat beristirahat dan tidur.

Umumnya ibu merasa sangat lelah setelah melahirkan, lebih-lebih bila proses persalinannya berlangsung cukup lama. Dahulu, ibu harus cukup beristirahat, yakni harus tidur terlentang selama kurang lebih 8 jam setelah bersalin. Kemudian ia boleh miring ke kiri dan ke kanan untuk mencegah terjadinya risiko timbunan plak di pembuluh darah (trombosis dan tromboemboli) akibat terlalu lama tidak bergerak. Pada hari kedua ibu baru boleh duduk, hari ketiga boleh berjalan dan hari berikutnya boleh pulang. Tahap-tahap untuk bergerak tersebut tidak mutlak, tergantung pada adanya komplikasi persalinan, nifas, dan sembuhnya luka. Namun sekarang, setelah melahirkan ibu dianjurkan untuk mobilisasi secara aktif seawal mungkin jika sudah memungkinkan. Sesudah bersalin, bila ibu menghendaki, maka diperkenankan untuk berjalan-jalan, pergi ke kamar mandi bila perlu dan istirahat kembali bila merasa lelah. Namun sebagian besar menghendaki untuk beristirahat total ditempat tidur selama 24 jam, terutama bila mengalami luka di jalan lahir yang cukup luas. Berbeda halnya jika persalinan dengan cara bedah sesar yang menggunakan pembiusan melalui tulang belakang, ibu harus tetap mengikuti tahap-tahap bergerak tersebut, untuk menghindari efek samping obat bius berupa nyeri kepala yang hebat.

Setelah melahirkan, ibu harus segera buang air kecil sendiri. Kadang-kadang timbul keluhan kesulitan berkemih yang disebabkan pada saat persalinan otot-otot kandung kemih mengalami tekanan oleh kepala janin, disertai pembengkakan kandung kemih. Bila kandung kemih terisi penuh sedangkan si ibu tidak dapat buang air kecil, sebaiknya dilakukan pemasangan kateter (selang kencing), untuk mengistirahatkan sementara otot-otot tersebut, yang berikutnya diikuti dengan latihan berkemih. Ketidakmampuan berkemih dapat menyebabkan terjadinya infeksi, sehingga harus diberikan antibiotika. Dalam 3-4 hari setelah bersalin, ibu harus sudah buang air besar. Bila ada sembelit dan tinja mengeras, dapat diberikan obat pencahar atau dilakukan klisma (pembersihan usus). Demam dapat muncul jika tinja tertimbun lama di usus besar.

Dalam hal menyusui, saat ini sedang digalakkan upaya pemberian ASI sedini mungkin setelah bayi lahir. Bayi diletakkan tengkurap di atas dada ibu yang masih berbaring, kemudian dalam dekapan ibu, dalam beberapa jam pertama si bayi akan berusaha mencari puting susu ibunya dan belajar menghisap sehingga dapat merangsang produksi ASI.

Pada ibu yang bersalin secara normal (bukan operasi), sebaiknya dianjurkan untuk kontrol kembali 6 minggu sesudah melahirkan. Pemeriksaan meliputi keluhan, selera makan, gangguan berkemih dan buang air besar, ASI (payudara dan puting susu), luka jalan lahir, keputihan, riwayat demam dan perdarahan, dan pemeriksaan organ kandungan.Pemeriksaan tersebut tidak merupakan pemeriksaan terakhir, terlebih jika ditemukan kelainan meskipun sifatnya ringan.


Perawatan Bayi Baru Lahir


Masa bayi baru lahir (neonatal) adalah masa 28 hari pertama kehidupan manusia. Pada masa ini terjadi proses penyesuaian sistem tubuh bayi dari kehidupan dalam rahim ke kehidupan di luar rahim. Masa ini adalah masa yang perlu mendapatkan perhatian dan perawatan yang ekstra karena pada masa ini terdapat mortalitas paling tinggi (Rudolf, 2006).
Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menyatakan bahwa angka kematian bayi dalam usia 28 hari pertama masih cukup tinggi yaitu sebesar 34 per 1000 kelahiran hidup. Angka kematian bayi merupakan salah satu indikator derajat kesehatan bangsa. Tingginya angka kematian bayi dapat menjadi petunjuk bahwa pelayanan maternal dan neonatal kurang baik. Selain itu, penyebab tingginya kematian bayi dalam usia 28 hari pertama adalah kurang baiknya penanganan dan perawatan bayi baru lahir.
Perawatan bayi baru lahir meliputi:
  1. Pencegahan infeksi
  2. Penilaian bayi baru lahir
  3. Pencegahan kehilangan panas
  4. Asuhan tali pusat
  5. Inisiasi menyusu dini (IMD)
  6. Pencegahan perdarahan
  7. Pemberian imunisasi
  8. Pemeriksaan bayi baru lahir
Pencegahan Infeksi
Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi mikroorganisme selama proses persalinan berlangsung maupun beberapa saat segera setelah bayi lahir. Cara pencegahan infeksiadalah sebagai berikut: cuci tangan sebelum dan sesudah bersentuhan dengan bayi; memakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi; memastikan peralatan yang digunakan steril; dan memastikan semua pakaian maupun perlengkapan bayi dalam keadaan bersih.
Penilaian Bayi Baru Lahir
Penilaian awal yang dilakukan segera setelah lahir adalah dengan menjawab 4 pertanyaan, yaitu:
  1. Apakah bayi cukup bulan?
  2. Apakah air ketuban jenih dan tidak bercampur mekonium?
  3. Apakah bayi menangis atau bernafas?
  4. Apakah tonus otot bayi baik?
Pencegahan Kehilangan Panas
Sistem pengaturan suhu tubuh pada bayi baru lahir belum berfungsi sempurna. Oleh karena itu, segera lakukan upaya pencegahan kehilangan panas agar bayi tidak mengalami hipotermi. Hipotermi dapat menyebabkan bayi sakit berat bahkan kematian. Hipotermi mudah terjadi pada bayi yang tubuhnya dalam keadaan basah atau tidak segera dikeringkan/diselimuti meskipun berada di dalam ruangan yang relatif hangat. Cara mencegah terjadinya kehilangan panas dengan mengeringkan tubuh bayi tanpa membersihkan verniks; meletakkan bayi di tubuh ibu; menyelimuti dan memakaikan topi; dan tidak memandikan bayi sebelum 6 jam setelah lahir.
Asuhan Tali Pusat
Asuhan tali pusat dilakukan setelah dua menit segera setelah bayi lahir, lakukan pemotongan dan pengikatan tali pusat. Hal yang perlu diperhatikan dalam merawat tali pusat adalah sebagai berikut: cuci tangan sebelum dan sesudah merawat tali pusat; menjaga umbilikus tetap kering dan bersih; tidak boleh membungkus tali pusat dan memberikan bahan apapun di umbilikus; dan lipat popok di bawah umbilikus.
Inisiasi Menyusu Dini
Segera setelah bayi lahir dan telah dilakukan perawatan tali pusat, maka bayi diletakkan secara tengkurap di dada ibu dengan kulit bayi bersentuhan langsung dengan kulit ibu. Kontak kulit dilakukan satu jam lebih, bahkan sampai bayi dapat menyusu sendiri. Dukungan ayah dan keluarga sangat diperlukan oleh ibu dan bayi. Manfaat menyusu dini adalah: mengurangi 22% kematian bayi umur 28 hari; meningkatkan keberhasilanmenyusui secara eksklusif; merangsang produksi ASI; dan memperkuat refleks menghisapbayi.
Pencegahan Perdarahan
Semua bayi baru lahir harus diberikan suntikan vitamin K1 1 mg secara intramuskuler setelah 1 jam kontak kulit ke kulit dan bayi selesai menyusu untuk mencegah perdarahanbayi baru lahir akibat defisiensi vitamin K yang dapat dialami sebagian bayi baru lahir.
Pemberian Imunisasi
Imunisasi yang diberikan 1 jam setelah pemberian vitamin K1 adalah imunisasi hepatitis B. Manfaat pemberian imunisasi hapatitis B untuk mencegah infeksi hepatitis B terhadap bayi, terutama yang ditularkan melalui ibu-bayi.
Pemeriksaan Bayi Baru Lahir
Pemeriksaan bayi baru lahir dilakukan pada saat bayi berada di klinik (dalam 24 jam) dan saat kunjungan tindak lanjut (KN) yaitu 1 kali pada umur 1-3 hari, 1 kali pada umur 4-7 hari dan 1 kali pada umur 8-28hari.


Sumber:

Kamis, 20 April 2017

contoh kasus patient safety yang berkaitan dengan undang-undang


Pengertian Patient safety
Menurut Supari tahun 2005,
“patient safety adalah bebas dair cidera aksidental atau menghindarkan cidera pada pasien akibat perawatan medis dan kesalahan pengobatan”.
Patient safety (keselamatan pasien) rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Hal ini termasuk : assesment resiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insident dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya resiko. Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang di sebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya dilakukan (DepKes RI, 2006).
Menurut Kohn, Corrigan & Donaldson tahun 2000
“ patient safety adalah tidak adanya kesalahan atau bebas dari cedera karena kecelakaan. Keselamatan pasien (patient safety) adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman, mencegah terjadinya cidera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil. Sistem tersebut meliputi pengenalan resiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden, tindak lanjut dan implementasi solusi untuk meminimalkan resiko. Meliputi: assessment risiko, identifikasi dan pengelolaan hal berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya, implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko”
Kasus
An. Az. di Rumah Sakit S (padang) umur 3 tahun pada tanggal 14 februari 2012, pasien di rawat di ruangan melati Rs. S padang dengan diagnosa Demam kejang .Sesuai order dokter infus pasien harus diganti dengan didrip obat penitoin namun perawat yang tidak mengikuti operan jaga langsung mengganti infuse pasien tanpamelihat bahwa terapi pasien tersebut infusnya harus didrip obat penitoin. Beberapamenit kemudian pasien mengalami kejang-kejang, untung keluarga pasien cepatmelaporkan kejadian ini sehingga tidak menjadi tambah parah dan infusnya langsungdiganti dan ditambah penitoin.
Analisis
Dalam kasus ini terlihat jelas bahwa kelalaian perawat dapat membahayakankeselamatan pasien. Seharusnya saat pergantian jam dinas semua perawat memilikitanggung jawab untuk mengikuti operan yang bertujuan untuk mengetahui keadaan pasien dan tindakan yang akan dilakukan maupun dihentikan. Supaya tidak terjadikesalahan pemberian tindakan sesuai dengan kondisi pasien.Pada kasus ini perawat juga tidak menjalankan prinsip 6 benar dalam pemberian obat.Seharusnya perawat melihat terapi yang akan diberikan kepada pasien sesuai order,namun dalam hal ini perawat tidak menjalankan prinsip benar obat.Disamping itu juga, terkait dengan hal ini perawat tidak mengaplikasikan konsep patientsafety dengan benar, terbukti dari kesalahan akibat tidak melakukan tindakan yangseharusnya dilakukan yang menyebabkan ancaman keselamatan pasien
Keterkaitannya kasus ini
Dengan undang-undang no. 38 tahun 2014
Dalam Praktik Keperawatan, Klien berhak:
a. mendapatkan informasi secara, benar, jelas, dan jujur tentang tindakan Keperawatan yang akan dilakukan;
b. meminta pendapat Perawat lain dan/atau tenaga kesehatan lainnya;
c. mendapatkan Pelayanan Keperawatan sesuai dengan kode etik, standar Pelayanan Keperawatan,
standar profesi, standar prosedur operasional, dan ketentuan Peraturan Perundang-undangan;
d. memberi persetujuan atau penolakan tindakan Keperawatan yang akan diterimanya; dan
e. memperoleh keterjagaan kerahasiaan kondisi kesehatannya.

Jumat, 14 April 2017

FUNGSI SEORANG BIDAN


A.   Pelaksana asuhan / pelayanan kebidanan
1)    Melaksanakan asuhan/ pelayanan kebidanan pada ibu hamil normal dengan komplikasi patologis dan resiko tinggi
2)    Melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu bersalin normal dengan komplikasi patologis dan resiko tinggi
3)    Melaksanakan asuhan kebidanan pada bayu baru lahir normal, komplikasi patologis dan resiko tinggi
4)    Melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu meneteki/ nifas
5)    Melaksanakan asuhan kesehatan pada bayi dan balita
6)    Melaksanakan asuhan kesehatan pada wanita/ ibu dengan gangguan sistem reproduksi
7)    Kelaksanakan asuhan kebidanan komunitas
8)    Melaksanakan pelayanan KB
B.   Pengelola unit KIA/ KB
1)    Melaksanakan pelayanan KIA/ KB
2)    Mengkoordinasi pelayanan KIA/ KB
C.   Pendidik dalam asuhan/ pelayanan kebidanan
1)    Melaksanakan bimbingan/ penyuluhan pada wanita dalam masa pra perkawinan, ibu akseptor KB
2)    Melatih dan membina tenaga kesehatan, kader dan dukun bayi dalam pelayanan KIA/ KB
D.   Pelaksanaan penelitian dalam asuhan kebidanan
1)    Merencanakan penelitian
2)    Melaksanakan pengumpulan, pengelolahan dan analisa data serta menulis kesimpulan penelitian